BRI Bantu Usaha Perajin Lampu Gentur di Cianjur, Tembus Pasar Internasional

Petugas BRI tinjau perajin lampu Gentur di Cianjur

CIANJUR – Sorot cahaya lampu hias yang mempercantik hotel-hotel mewah dan hunian eksklusif di berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri, memiliki akar sejarah dari Kampung Gentur, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Cianjur. Kerajinan Lampu Gentur yang telah ada sejak 1820 kini tidak lagi sekadar peninggalan budaya, tetapi berkembang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Pada mulanya, para leluhur Kampung Gentur membuat lampu cempor berbahan minyak tanah untuk menerangi anak-anak saat mengaji. Seiring perkembangan teknologi, produk tersebut berevolusi menjadi lampu elektrik bernilai seni tinggi dengan bahan kuningan dan kaca bertekstur khas. Keahlian membuatnya diperoleh secara otodidak dan diwariskan dari generasi ke generasi, membentuk sentra pengrajin yang memiliki ciri unik dan tidak dijumpai di wilayah lain.

Salah satu figur yang berperan dalam menjaga eksistensi kerajinan ini adalah Salmanudin. Sejak 2019, ia tidak hanya memproduksi lampu, tetapi juga mengembangkan hantaran khas Gentur berbahan kaca dan kuningan. Hasil produksinya telah merambah pasar Malaysia serta rutin dikirim ke Palembang setiap pekan. Hal serupa dilakukan Gugun Gunadi yang dalam lima tahun terakhir konsisten melayani kebutuhan pasar dalam negeri, khususnya wilayah Sumatera dan Surabaya.

Perkembangan usaha para pengrajin tersebut turut diperkuat dukungan lembaga perbankan. BRI BO Cianjur melalui BRI Unit Cikaroya menjadi mitra utama yang membantu meningkatkan kapasitas produksi masyarakat Gentur.

Harry Wahyudi, Pemimpin Cabang BRI BO Cianjur, menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung pertumbuhan klaster UMKM berbasis kearifan lokal ini.

“Lampu Gentur adalah permata ekonomi kreatif Cianjur. Saat ini, BRI Unit Cikaroya telah membina sekitar 70 pengrajin di Kampung Gentur dengan total plafon kredit yang disalurkan mencapai Rp1,5 Miliar. Kami tidak hanya memberikan akses permodalan, tetapi juga ingin memastikan bahwa warisan budaya yang sudah ada sejak 1820 ini terus beradaptasi dengan pasar modern,” ujar Harry Wahyudi.

Ia menambahkan, dukungan pembiayaan tersebut diharapkan mampu membantu pengrajin dalam menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus memperluas akses pasar.

“Kami bangga melihat produk nasabah kami, seperti Pak Salmanudin dan Pak Gugun, mampu bersaing secara nasional hingga mancanegara. Ini membuktikan bahwa UMKM di wilayah kerja kami memiliki kualitas kelas dunia jika didukung dengan ekosistem keuangan yang tepat,” pungkasnya.

Sampai kini, aktivitas produksi di Desa Jambudipa tetap berlangsung aktif, ditandai dengan bunyi palu dan proses patri yang terus terdengar. Kolaborasi antara keterampilan turun-temurun dan dukungan perbankan membuat Lampu Gentur tetap bersinar, menjangkau pasar nasional hingga internasional.*

Tinggalkan Balasan