GARUT – Klinik Utama Dr.H.A Rotinsulu yang berlokasi di Jl. Pembangunan Blok Astana Kalong RT 01 RW 14 Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut mengadakan khitanan massal dan penandatanganan prasasti, Jumat (13/2).
Dalam acara ini Bupati Garut Abdusy Syakur hadir menandatangani prasasti pembangunan gedung.
Dr dr Andi Basuki Prima Birawa Sp.S(k)M.A.R.S Direktur SDM Pendidikan dan Penelitian klinik Utama Dr.HA Rotinsulu Garut menerangkan, Diantara rangkaian acara hari ini adalah penandatanganan prasasti pembanguan gedung yang sebelumnya sudah diresmikan.
” Bupati juga akan menandatangani prasasti ya walaupun sebenarnya peresmian sudah dilakukan tapi waktu itu Bupati berhalangan sehingga tanda tangan sekarang,” ujarnya.
Selain itu acara ini juga dikolaborasikan dengan peringatan ulang tahun Rotinsulu ke-91. Sebagai wujud syukurnya ultah ini juga diisi dengan khitanan massal dan sosialisasi pada masyarakat terkait lokasi klinik yang baru.
” Sebelumnya di tempat yang lama lokasi lama mungkin kurang ideal gitu mudah-mudahan di tempat yang baru ini kita bisa lebih memaksimalkan perawatan dan pelayanan pada masyarakat,” ujarnya.
Penyakit Paru Jadi Fokus Pemerintah
Lebih jauh dr. Andi menerangkan, sebagai klinik yang fokus menangani penyakit paru, pihaknya merasa kehadiran di Garut diharapkan bisa berkontribusi maksimal. Pasalnya penyakit paru selama ini menjadi perhatian pemerintah.
Terlebih lagi penyakit TBC di Jawa Barat menjadi salah satu yang menempati posisi tertinggi.
” Iya, di Jawa Barat sebenarnya cukup tertinggi di Indonesia ya karena memang penduduk Jawa Barat kan tinggi Indonesia nomor dua di dunia untuk TBC paru ya. Di Garut mungkin juga cukup tinggi begitu dan penyakit paru ini menjadi perhatian program kedua dari Bapak Presiden sekarang selain MBG ya,” ujarnya.
Bupati Berikan Apresiasi
Dalam wawancara bersama awak media, Bupati Abdusy Syakur Amin menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan sosial tersebut. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Garut menyambut baik berbagai inisiatif yang mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat.
Menurutnya, tantangan kesehatan di Kabupaten Garut masih cukup kompleks, khususnya terkait penyakit paru dan tuberkulosis (TBC) yang angkanya tergolong tinggi di Jawa Barat. Kondisi ini membutuhkan penanganan komprehensif dan kolaboratif—melibatkan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, hingga dukungan pemerintah pusat.
“Edukasi dan penyebaran informasi tentang penyakit paru harus terus ditingkatkan. Kasusnya cukup banyak dan berpotensi fatal jika tidak ditangani secara optimal,” ujarnya.
Ia juga menyinggung dinamika data kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam sistem jaminan kesehatan. Proses pendataan yang terus diperbarui menuntut ketelitian agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan tetap mendapatkan akses layanan. Pemerintah daerah, kata dia, berupaya memastikan tidak ada warga yang terhambat memperoleh pelayanan kesehatan akibat persoalan administratif.(feri)
