HUT ke-94 Desa Banjarsari, Dede Kusdinar Dorong Para Kades di Garut Rawat Budaya Lokal

BAYONGBONG, GARUT – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-94 Desa Banjarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, tidak sekadar menjadi momentum perayaan hari jadi desa. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali tradisi dan budaya lokal yang mulai tergerus perkembangan zaman.

Pesan itu disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Dede Kusdinar, saat menghadiri rangkaian Hajat Desa Banjarsari sekaligus peringatan HUT ke-94 Desa Banjarsari dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kegiatan yang digelar di Lapang Stadion Gelora Banjarsari tersebut mengusung tema “Ngariksa Budaya, Ngarumat Tradisi, Ngawangun Sauyunan Pikeun Kamajuan Desa”.

Hajat Desa juga diwarnai Upacara Adat Prosesi Saika Sapamilu dan Kawin Bumi. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas nikmat dan keberkahan yang diterima, sekaligus doa untuk kemajuan serta kesejahteraan desa.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah unsur pemerintahan dan masyarakat, di antaranya Dede Kusdinar, Kepala DPMD Kabupaten Garut Ahmad Ramdhani, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Garut Asep Maulana, Forkopim Kecamatan Bayongbong, DPD Apdesi Kabupaten Garut, Kepala Desa Banjarsari Edi Sopandi, tokoh ulama, pemuda, serta masyarakat Desa Banjarsari.

Dalam kesempatan itu, Dede Kusdinar menekankan pentingnya peran pemerintah desa dalam menjaga keberadaan budaya lokal. Menurutnya, desa memiliki posisi strategis karena menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya berbagai tradisi masyarakat.

“Tentunya kami sangat mengapresiasi, karena kegiatan ini tak hanya menjadi wujud cinta tanah air, namun juga memperkuat solidaritas warga sekaligus menggali kembali kekayaan tradisi budaya lokal yang penuh makna. Kebetulan kami di legislatif memiliki program budaya, dan akan mengapresiasi kepala desa yang bisa melestarikan budaya budaya lokal, budaya daerah, dan budaya buhun,” ungkap Dede Kusdinar.

Ia juga mendorong para kepala desa agar tidak hanya mengenal budaya yang berkembang di wilayahnya, tetapi turut mengambil langkah nyata untuk menjaga dan melindungi kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Garut.

Dede menilai keberadaan budaya lokal menghadapi tantangan serius seiring pesatnya modernisasi dan globalisasi. Karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk mempelajari, mengembangkan, serta mengintegrasikan potensi budaya daerah agar tetap relevan bagi generasi sekarang dan masa depan.

“Kita harus merawat dan juga menjaga serta melestarikan itu semua agar tidak punah dan termakan oleh perkembangan jaman. Dengan budaya pasti kita akan banyak kegiatan-kegiatan yang positif terutama anak muda,” tandas Dede.

Menurutnya, pelestarian budaya juga dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kegiatan positif bagi generasi muda. Dengan keterlibatan anak muda dalam kegiatan budaya, tradisi lokal tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi dapat terus hidup dan berkembang.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarsari, Edi Sopandi, mengatakan pihaknya berkomitmen untuk terus menjaga HUT Desa Banjarsari sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah. Ia juga melihat potensi budaya sebagai salah satu modal dalam mendorong perkembangan ekonomi desa secara berkelanjutan.

“Sesuai dengan Perdes No. 8 Tahun 2025 bahwa Desa Banjarsari berulang tahun di tanggal 16 Agustus. Dan saya merasa bersyukur alhamdulillah begitu antusias masyarakat terhadap kegiatan ini. Ini salah satu bentuk apresiasi para warga Desa Banjarsari terhadap hari jadi Desa Banjarsari,” ungkap Edi.

Ketua Apdesi Kecamatan Bayongbong tersebut menambahkan, rangkaian perayaan HUT ke-94 Desa Banjarsari dan HUT ke-81 RI tidak hanya ditujukan sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air di tengah masyarakat.

“Kegiatan ini membuktikan bahwa semangat kemerdekaan tetap menyala, diwujudkan melalui kreativitas dan kebersamaan. Semangat gotong royong dan antusiasme warga Banjarsari luar biasa,” tukasnya.

Pelibatan generasi muda juga menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian perayaan tersebut. Berbagai pentas seni memberikan ruang bagi anak muda untuk menampilkan kreativitas sekaligus mengenal lebih dekat kebudayaan yang hidup di lingkungan mereka.

Rangkaian kegiatan HUT Desa Banjarsari berlangsung sejak 9 hingga 16 Agustus 2026. Sejumlah kegiatan digelar, mulai dari Pasanggiri Jaipong, kegiatan UMKM lokal, perlombaan antar-RW, Prosesi Hajat Desa, hingga karnaval.

Rangkaian peringatan tersebut kemudian ditutup dengan kegiatan Takblig Akbar.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, HUT ke-94 Desa Banjarsari tidak hanya menjadi perayaan bertambahnya usia desa, tetapi juga momentum untuk memperkuat kebersamaan masyarakat sekaligus memastikan budaya dan tradisi lokal tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan